Rabu, 06 April 2011

Waliyullah memang Rahasia Allah

Syeh Syihabudin Al Qalyubi menyebutkan dalam kitab karanganya ”An Nawadir”, bahwa Allah SWT merahasiakan 5(Lima) hal dalam 5(Lima) hal. salah satunya adalah Allah merahasiakan keberadaan kekasih-Nya(wali-Nya) di antara manusia.
Untuk apa? Tidak lain adalah agar kita berhati-hati atau menghormati kepada semua orang.
Karena kita tidak tahu siapa orang yang kita selalu kita temui, boleh jadi menurut kita orang biasa/hina tapi ternyata ia adalah waliyullah, maka dengan begitu kita harus menghormati semua orang. Dan memang waliyullah adalah Rahasia Allah, hanya orang-orang pilihan saja yang tahu keberadaan wali-wali Allah sampai sampai di dunia per-wali-an muncul ”Pameo”:

لايعرف الوالي إلاالوالي

”Tidak ada yang mengetahui bahwa seseorang itu wali kecuali ia sendiri wali”.
Wali tidak lebih adalah seorang manusia, sama seperti kita-kita ini, hanya saja ia mempunyai derajat yang tinggi di hadapan Allah, sehingga ia menjadi kekasih Allah.
Mengenai kerahasiaan wali di antara para manusia ini saya teringat apa yang dikisahkan oleh guru saya Mbah Kyai Solichun (PonPes Nurul Hasan, Geger Tegalrejo) sewaktu saya sowan kepada beliau. beliau bercerita, bahwa pada suatu hari Mbah Kyai Marzuqi Lirboyo kedatangan seorang tamu. Tidak seperti pada hari-hari biasanya, di mana tamu yang sowan adalah kyai atau santri berpakaian rapi. Tamu beliau kali ini memang lain dari yang lain, bermata sipit seperti orang keturunan tionghoa(bhs jawa: koyo wong cino), memakai celana pendek dan membawa seekor anjing yang diikat dengan tali.
Pada saat yang bersamaan Mbah Kyai Mahrus (adik Kyai Marzuqi) memperhatikan tamu yang datang ini dari kejauhan.
Tanpa disangka ternyata Mbah Kyai Marzuqi menyambut tamu ini dengan penuh hormat, mencium tanganya dan melayani tamu tersebut secara istimewa.
Karena terkejut dengan sikap Mbah Kyai Marzuqi teradap tamunya, maka setelah tamu tersebut pamitan, Mbah Kyai Mahrus bergegas bertanya kepada Mbah Kyai Marzuqi siapakah tamu beliau tadi dan mengapa Mbah kyai menyambut dengan penuh hormat (bhs Jawa:munduk-munduk), mencium tangan dan melayaninya dengan khidmat.
Mbah Marzuqi menjawab:”Kae mau Nabi Khidir, ngabari aku nek patang puluh dino maneh aku mati” (itu tadi nabi Khidir, memberitahuku bahwa 40 (empat puluh) hari lagi aku mati.”
Dan memang benar, Mbah Kyai Mahrus menghitung tepat 40 (empat puluh) hari setelah kedatangan tamu tersebut, Mbah Kyai Marzuqi dipanggil menghadap Allah SWT.
Wali memang rahasia Allah….
Wallahu A’lam.

SUMBER : TERONG GOSONG

Mengenal Rubat Tarim "HADHRAMAUT"

Sekilas mengenal profil pesantren Rubat Tarim yang telah banyak menelorkan ulama besar di Asia Tenggara, Afrika dan penjuru dunia lainnya Pendahuluan

Kota Tarim sejak dulu merupakan pusat ilmu dan penyebaran agama Islam, pakar sejarah mengatakan demikian. Kerena, melalui perantau yang berasal dari kota ini pada khususnya dan Hadramaut pada umumnya Islam menyebar hingga ke Timur Asia, India, Indonesia, Malaysia, Berunei Darussalam, Fhilipina, Singapura, juga belahan Afrika, Kongo, Somalia, dan Sudan.
Mereka para muhajirin tersebut pergi untuk berdakwah, dan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka berdagang, hingga negeri-negeri yang dulunya kafir berubah menjadi negeri-negeri Islam.

Sayyidina Imam Ahmad bin Hasan al-Attas menyebutkan bahwa sebagian ulama Tarim telah hijrah sejak lebih dari 1000 tahun lalu, diantara mereka ada yang menjadi qadhi (hakim) di Mesir, padahal negeri ini dan    al-Azharnya sudah terkenal sejak dulu sebagai pusat cendekiawan-cendekiawan muslim.

Pada abad-abad selanjutnya fenomena ini mulai berubah, jika sebelumnya para ulama hijrah dari kota Tarim Al-Ghanna ini, kini orang mulai berdatangan ke Tarim untuk menuntut ilmu. Itu terjadi baik dimasa hidup Habib Syekh Abu Bakar bin Salim, masa putra beliau Hamid dan Husin juga di masa Imam Abdullah al-Haddad. Hal ini terjadi terus menerus hingga pada paruh pertama abad ke-13 H. Kota Tarim kian dipenuhi pendatang asing, diantara mereka Sayyid Imam al-Habib Sholeh al-Bahrain, Salim bin Sa’id bin Syumaeil, Syekh Abdullah Basaudan, al-Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Attas, dan sebagainya. Pendatang-pendatang ini tinggal di mesjid-mesjid dan juga di zawiyah-zawiyah yang ada di Tarim.    

Kota yang besarnya tidak lebih dari luas sebuah kecamatan di Indonesia ini memang sangat istimewa. Walaupun kecil namun jumlah mesjidnya saja sangat banyak, kurang  lebih 365 buah, dan zawiyah-zawiyah yang makna asalnya adalah pojok-pojok yang berfungsi sebagai tempat ibadah para ubbad (ahli ibadah). Disitu para pelajar belajar ilmu nahwu, fiqh, dan ilmu-ilmu lainnya dengan para guru-guru yang ada di tiap-tiap zawiyah atau mesjid tersebut. Seperti zawiyah Syekh Ali bin Abu Bakar as-Sakron bin Abdurrahman as-Seqqaf yang diasuh oleh al-Allamah Mufti Diyar Hadramiyah al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, kemudian zawiyah mesjid Sirjis dan Awwabin dengan Syekh al-Allamah Muhammad bin Ahmad al-Khatib, zawiyah mesjid Nafi’ diasuh al-Allamah Syekh Ahmad bin Abdullah al-Bakri al-Khatib (setelah wafat guru beliau yang juga pendiri zawiyah tersebut, al-Allamah Ahmad bin Abdullah Balfaqih pada tahun 1299 H, dan setelah wafat al-Habib Abu Bakar bin Abdullah Bakar al-Khered), kemudian mesjid Suwayyah pengajarnya juga Syekh Ahmad, mesjid bani Hatim (sekarang dikenal dengan mesjid ‘Asyiq) mudarrisnya al-Allamah Alwi bin Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Masyhur, zawiyah Syekh Salim bin Fadhal Bafadhal dengan pengasuh al-Habib Abu Bakar bin Abdullah          al-Kherred (meninggal tahun 1312 H) dan lain sebagainya.

 Demikinlah kegiatan-kegiatan ilmiah yang ada di kota ini begitu ramai dan tatkala pelajar dari luar Tarim kian banyak dan dirasa kian sulit mendapatkan tempat tinggal, berkumpullah para pemuka kota ini guna memecahkan masalah itu, diantara mereka dari keluarga al-Haddad, as-Sirri, al-Junaid dan al-Arfan.

Nama Perguruan

Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk mendirikan sebuah rubath (ma’had) yang kemudian dinamakan “RUBATH TARIM”. Persyaratan bagi calon pelajar juga dibahas pada kala itu, kriteria utama antara lain: calon santri adalah penganut salah satu mazhab dari empat mazhab fiqh (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali) dan dalam aqidah bermazhab Asy’ariyah (mazhab Imam Abi Hasan Al-Asy’ari)     

Tahun Diresmikan

    Setelah membuat kesepakatan diatas dimulailah pembangunan Rubath Tarim. Untuk keperluan ini, Habib Ahmad bin Umar as-Syatiri (wafat  di Tarim tahun 1306 H) mewakafkam rumah beliau (dar muhsin) dan pekarangannya yang berada disebelah pasar di halaman mesjid Jami’ Tarim dan mesjid Babthoinah (sekarang mesjid Rubath Tarim). Wakaf juga datang dari al-Allamah al-Muhadisth Muhammad bin Salim as-Sirri (lahir di Singapura 1264 H, dan wafat di Tarim 1346 H)

    Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri (pengasuh Rubath Tarim sekarang) menambahkan bahwa pedagang-pedagang dari keluarga al-Arfan juga mewakafkan tanah yang mereka beli di bagian timur, mereka kemudian dijuluki tujjaru ad-dunya wa al-akhirah (pedagang dunia dan akhirat). Datang juga sumbangan melalui wakaf rumah, kebun, dan tanah milik keluarga-keluarga habaib di luar Yaman, seperti Indonesia, Singapura, dan Bombosa Afrika. 

Akhirnya selesailah pembangunan Rubath Tarim di bulan Dzulhijjah tahun 1304 H dan secara resmi dibuka pada 14 Muharram 1305 H, keluarga al-Attash tercatat sebagai santri pertama yang belajar di Rubath Tarim kemudian datang keluarga al-Habsyi,begitu selanjutnya berdatangan para pelajar, baik dari Hadramaut sendiri maupun dari luar Hadramaut  bahkan dari luar negeri Yaman. Habib Ahmad bin Hasan al-Attash berkata: “Perealisasian pembangunan Rubath Tarim ini tidak lain adalah niat semua salafusshalihin alawiyiin, hal ini terbukti dengan mamfaatnya yang besar serta meluas mulai dari bagian Timur bumi dan Barat”.

Pengasuh

-  Pengasuh I   

Mufti Diyar Hadramiyah Sayyidina al-Imam al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur (pengarang kitab Bugyatul Mustarsidin), beliau  lahir di Tarim tahun 1250 H. Beliau mengasuh Rubath Tarim hingga tahun 1320 H, dengan dibantu ulama-ulama lain yang ada pada masa itu, seperti al-Allamah Syekh Ahmad bin Abdullah al-Bakri al-Khatib (1257-1331 H), al-Allamah an-Nahrir Habib Alwi bin Abdurrahman al-Masyhur (1263-1341), al-Faqih   al-Qadhi Husein bin Ahmad bin Muhammad al-Kaff (menjadi qadhi di Tarim selama dua periode, wafat 1333 H), al-Allamah as-Sayyid Hasan bin Alwi bin Sihab, al-Allamah Syekh Abu Bakar bin Ahmad         al-Bakri al-Khatib (1286-1356). Para mudarris inilah yang mengajar di Rubath Tarim sejak pertama kali dibuka pada tahun 1305 hingga tahun 1314 H.  

-  Pengasuh II

Al-Allamah al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur (lahir di Tarim tahun 1274 H), mudarris di zawiyah Syekh Ali bin Abu Bakar bin Abdurrahman as-Segaf. Beliau mengasuh Rubath Tarim sejak wafatnya sang ayah (al-Habib Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur) pada tahun 1320 H dan terus berlangsung hingga tahun 1344 H ketika beliau berpulang ke rahmatullah pada tahun itu pada tanggal 9 Syawal.

-  Pengasuh III  

Al-Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri ra (lahir di Tarim bulan Ramadhan tahun 1290 H), yang kemudian diberi mandat oleh pemuka kota Tarim untuk menjadi pengasuh ketiga yang semula menjadi wakil Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur sejak tahun 1341 H jika beliau berhalangan mengajar dan telah menjadi mudarris di Rubath Tarim sejak datang dari Mekkah pada tahun 1314 H. Pada mulanya beliau belajar di kota kelahiran kepada para masyayikh di sana terutama kepada Habib Abdurrahman al-Masyhur, Habib Alwi bin Abdurrahman al-Masyhur dan Habib Ahmad bin Muhammad    al-Kaff. Kemudian beliau pindah ke Seiwun (25 Km sebelah barat laut kota Tarim) dan belajar di Rubath Habib Ali bin Muhammad bin Husien al-Habsyi selama kurang lebih empat bulan, juga kepada Habib Muhammad bin Hamid as-Segaff, dan saudara beliau Umar bin Hamid as-Segaf, serta Habib Abdullah bin Muhsin as-Segaf. 

    Pada waktu berumur 20 tahun (tahun 1310 H), beliau pergi ke Mekkah bersama orang tua beliau Habib Umar As-Syatiri, untuk menunaikan ibadah haji dan ziarah kepada Rasulullah saw. Setelah selesai menunaikan ibadah haji, beliau meminta izin kepada ayah beliau untuk tinggal di Mekkah guna menuntut ilmu. Dan tercatat sejak tanggal 15 Muharram 1211 H hingga 15 Dzulhijjah 1313 H beliau belajar pada ulama-ulama di kota suci itu, diantaranya kepada Syekh al-Allamah Umar bin Abu Bakar Ba Junaid, Syekh al-Allamah Muhammad bin Said Babsheil, Habib Husien bin Muhammad bin Husien al-Habsyi (saudara Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, Seiwun), Habib Ahmad bin Hasan al-Attash, dan al-Faqih al-Abid Abu Bakar bin Muhammad Syatho (pengarang kitab Hasyiyah I’anatu at-Thalibin ‘ala Fathi al-Mu’in).

    Konon ilmu nahwu sangat sulit bagi beliau, sampai beliau berujar (sebagaimana yang dituturkan putera beliau Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri):”…..dulu saya punya kitab Kafrawi syarah al-Jurumiah yang penuh dengan air mata….. “ kerena sulitnya ilmu itu bagi beliau. Namun kemudian Allah SWT menganugerahi beliau ke-futuh-an.”….tatkala saya berada di Mekkah, semua risalah yang datang, saya taruh dibawah tempat tidur, saya berdo’a di Multazam agar Allah SWT membukakan bagi saya ilmu yang bermamfaat, dan agar ilmu saya menyebar di bumi barat dan timur, maka acap kali saya berdo’a dengan do’a ini, terlintas dalam benak, bahwa saya akan menjadi musafir yang pindah dari  negeri satu ke negeri yang lain untuk mengajar umat, akan tetapi berapa lama umur manusia untuk semua itu ?…”. Maka Allah SWT mengabulkan do’a beliau, Allah SWT memudahkan perjalanan Rubath ini, sehingga para penuntut ilmu berdatangan dari penjuru dunia, mereka menjadi ulama, dan menyebarkan ilmu mereka masing-masing maka menyebarlah ilmu beliau (Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri) di timur dan barat.

    Sayyid Muhammad bin Salim bin Hafizd (salah seorang murid beliau) berujar:”……..Habib Abdullah bercerita kepada kami bahwa lama tidur beliau kala itu (selama balajar di Mekkah) tidak lebih dari 2 jam saja setiap harinya, beliau belajar kepada guru-gurunya sebanyak 13 mata pelajaran pada siang dan malam, serta menelaah kembali semua pelajaran itu (tiap hari)……”.

Selama kurang lebih lima puluh tahun beliau mengajar di Rubath Tarim (1314-1361 H) selama itu hanya enam jam beliau berada dirumah, sedang delapan belas jam dari dua puluh empat jam tiap hari, beliau berada di Rubath Tarim untuk mengajar dan memimpin halaqah-halaqah ilmiah, jumlah murid yang telah belajar di Rubath Tarim tak dapat diketahui secara pasti jumlahnya. Dalam biografi Habib Muhammad bin Abdullah al-Hadar (salah seorang murid di Rubath Tarim) menyebutkan bahwa lebih dari 13.000 alim telah keluar dari Rubath Tarim di bawah asuhan Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri.


-   Pengasuh IV  

Al-Habib Hasan bin Abdullah bin Umar as-Syatiri.

-   Pengasuh V 

Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar as-Syatiri (pengasuh sekarang).

Luas Bangunan

Saat ini, bangunan Rubath Tarim yang luasnya sekitar 500 m persegi ini menampung pelajar dari berbagai belahan dunia terutama pelajar Indonesia yang hampir mendominasi warga Rubath Tarim.

Sistem Belajar

Sejak berdiri hingga sekarang (kurang lebih 121 tahun) pengajian di Rubath Tarim dilaksanakan dengan sistem halaqah yang dibimbing oleh para masyayikh. Klasifikasi ini disesuaikan dengan tingkatan masing-masing pelajar. Tiap halaqah mengkaji berbagai fan keilmuan tak kurang dari sepuluh halaqah sejak pagi hingga malam mengkaji ilmu-ilmu agama dan diikuti oleh para pelajar dengan disiplin dan khidmat.

Kitab-Kitab Yang Dipelajari

Adapun kitab-kitab yang dikaji pada tiap halaqah disesuaikan dengan kemampuan pelajar (semacam tingkatan kelas), antara lain:

    *    Umdah
    *    Fathul mu’in
    *    Minhajut Thalibin dan sarahnya
    *    Nahwu
    *    Fawaid Sugro dan Kabir
    *   Matan al-Jurumiah
    *    Al-Fushul al-fikriah Fiqh
    *    Ar-risalatul al-Jamiah
    *    Safinatun Najah
    *    Mukhtasar Shogir
    *    Mukhtasar Kabir
    *   Abi Syuja’
    *   Fathul Qarib
    *   Zubad
    *   Mutammimah -
    *  Qatrun Nida
    *   Syaddzu adzhab
    *   Alfiah Ibnu Malik
    *   Zawaid (tambahan) Alfiah Ibnu Malik

Setelah menamatkan kitab-kitab diatas para pelajar melanjutkan pada materi-materi lain, seperti Hadist, Tafsir, Usul fiqh.

Waktu Belajar

Para pengurus Rubath Tarim memperhatikan semua aktifitas pelajar dengan secara cermat. Jadual rutinitas keseharian para pelajar dimulai sejak sebelum shalat Subuh dengan melaksanakan shalat Tahajud, dilanjutkan shalat Subuh berjamaah di mesjid Babthoin, disertai pembacaan aurad.

Baru kira-kira pukul 05.00 s.d 07.00 pagi, digelar pengajian nahwu atau lebih akrab disebut dars nahwu. Setelah itu para pelajar dipersilahkan makan pagi. Pada jam 07.30 dilaksanakan mudzakarah tiap halaqah selama sekitar setengah jam untuk persiapan pengajian yang akan di pelajari bersama masyayikh yaitu hafalan matan sampai pukul 09.00.

Selama tiga jam berikutnya adalah waktu istirahat hingga Dzuhur, setelah menunaikan shalat Dzuhur diadakan hizb (tadarus) al-Qur’an selama setengah jam. Setelah itu para pelajar dianjurkan tidur siang untuk persiapan mengaji pada sore hari.

Pada pukul 15.00 setelah shalat ashar berjamaah, semua pelajar mengaji tiap halaqah sampai pukul 17.00, setelah shalat magrib dilanjutkan dengan hizb (tadarus) Al-Qur’an dan pengajian halaqah sampai pukul 20.15. Setelah makan malam para pelajar diharuskan mengikuti halaqah selama setengah jam untuk persiapan pelajaran pagi.

Staf Pengajar

1.    Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar as-Syatiri
2.    Syekh Abu Bakar Muhammad Balfaqih
3.    Syekh Umar Abdurrahman al-Atthas
4.    Syekh Abdullah Abdurrahman al-Muhdhar
5.    Syekh Muhammad Ali al-Khatib
6.    Syekh Muhammad Ali Baudhan
7.    Syekh Abdullah Umar bin Smith
8.    Syekh Abdurrahman Muhammad al-Muhdhar
9.    Syekh Hasan Muhsin al-Hamid
10.    Syekh Abdullah Shaleh Ba’bud
11.    Syekh Muhammad Al-Haddad
12.    Syekh Abdullah Umar Bal Faqih
Selain para masyayikh diatas, para senior juga diwajibkan membimbing halaqah tingkat bawahnya.

Fasilitas

    *     50 kamar
    *     Wartel
    *    Toserba
    *     Perpustakaan

Penutup

Sebagian ulama yang telah belajar di Rubath Tarim , antara lain:

-    Al-Imam Syaikhul Islam al-Habib Muhammad bin Abdullah        al-Haddar (1340-1418 H), mufti propinsi Baidha, Yaman dan pendiri Rubath al-Haddar lil ulumus Syariat.
-    Al-Allamah Habib Hasan bin Ismail bin Syekh, pendiri Rubath Inat Hadramaut.
-  Al-Allamah al-Habr, pejabat qadhi as-syar’i Baidha, Habib Muhammad bin Husien al-Baidhawi.
-   Al-Habib Abdullah bin Abdurrahman Ibn Syekh Abu Bakar bin Salim, pendiri Rubath Syihir.
-   Al-Habib Husien al-Haddar, ulama besar kelahiran Indonesia dan meninggal di Mukalla Hadramaut.
-  Al-Habib Muhammad bin Salim Bin Hafizd Ibn Syekh Abu Bakar bin Salim, pengarang dari berbagai kitab fikih dan faraid ayah dari al-Habib Ali Masyhur bin Hafizd dan al-Habib Umar bin Hafizd pendiri ma’had Dar Al-Musthafa Tarim Hadramaut.
- Al-Habib al-Wara’ as-Shufi  Ahmad bin Umar as-Syatiri, pengarang kitab Yakutun Nafis, Nailurraja’ syarah Safinatun Naja  dan sebagainya.
- Al-Habib Muhammad bin Ahmad as-Syatiri, pengarang kitab Syarah Yaqutun Nafis, Mandzuma Al-Yawaqit fifanni Al-Mawaqit (ilmu falaq), kitab Al-Fhatawa Al-Muassyirah dan sebagainya.
- Al-Allamah Syekh Muhammad bin Salim al-Baihani, pendiri ma’had Al’ilmi, Aden.
- Al-Allamah Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Jakarta, Indonesia.
- Al-Wajih an-Nabil al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Balfaqih (wafat tahun 1381 H), pengasuh ma’had Darul Hadist al-Faqihiyyah, Malang, Indonesia.
- Al-Faqih an-Nabil pejabat qadhi as-syar’i Banjarmasin Syekh Ahmad Said Ba Abdah.
-   Habib Abdullah al-Kaff, Tegal, Indonesia.
-    Habib Ahmad bin Ali al-Attas, pekalongan.
-    Habib Abdurrahman bin Syekh al-Attas, Jakarata.
-    Habib Abdullah Syami al-Attas, Jakarta.
-    Syekh al-Allamah Umar Khatib, Singapura.
-    Habib ‘Awad Ba ’Alawi, sesepuh ulama Singapura.
-    Syekh Abdurrahman bin Yahya, qadhi Kelantan, Malaysia.
-    Sayyid al-Muhafizd al-Majid al-Adib Hamid bin Muhammad bin Salim bin Alwi as-Sirri, pengajar di Rubath Tarim dan Jam’iyatul al-Haq di kota yang sama, kemudian pindah dan mengajar di Malang, Indonesia.
-    Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad, Mufti Johor, Malaysia.

Dan banyak lagi para ulama yang telah belajar di Rubath Tarim ini, yang tak mungkin disebutkan nama-nama mereka yang mencapai ribuan. Habib Alwi bin Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar di Indonesia, berkata:”…tak kutemukan satu daerah atau pulau di Indonesia yang saya masuki, kecuali saya dapati orang orang yang menyebarkan ilmu disana adalah alumni Rubath Tarim ini atau orang yang belajar kepada orang yang telah belajar disini…”.

Habib Musthafa bin Ahmad al-Muhdar menulis pada sebagian surat beliau kepada ahli Tarim: ”Ilmu as-Syatiri (Habib Abdullah bin Umar as-Syatiri) teruji dengan penyebarannya menyebar ke segala penjuru, dari daerah yang satu ke daerah yang lain, menyebar ke Hindia, China, negara-negara Arab, Somalia, Malabar, dan sebagainya..”.

Sayyid Muhammad bin Salimwalaikum sala bin Hafizd menambahkan (Habib Abdullah as-Syatiri) berhak mengatakan jika beliau mau sebagaimana yang dikatakan Imam Abi Ishaq as-Syairozi tatkala memasuki Khurasan,”tak aku dapati disatu kota pun dari kota-kota disana, Qadhi atau Alim kecuali dia adalah muridku atau murid dari muridku..”

    Demikianlah sekelumit sejarah Rubath Tarim yang panjang dan agung, yang telah belajar di sana beribu-ribu ulama, al-allamah, faqih, mufti, qadhi, syair bahkan para aulia Allah SWT. Dan saat ini Rubath Tarim telah memasuki usia yang ke-121 tahun, ratusan pelajar dari Yaman, Indonesia, Malaysia, Singapura, Tanzania, Afrika, dan sebagainya tengah menimba ilmu di sana, di bawah asuhan al-Allamah Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri.

Allahumma ya Man waffaqa ahla al-khoir  li khoiri wa a’annahum ‘alaihi, waffiqna lil khoiri   wa a’innaa ‘alaihi, Amin…
(berbagai sumber)

*diambil melalui : http://indo.hadhramaut.info/view/363.aspx

SUMBER LAINNYA: TANTE LIA (SYARIFAH NUR AMALIYA)

Selasa, 22 Maret 2011

cerita nyata penuh Hikmah dan sedikit kocak tentang Usahanya mbah Zainal Wong Wongan untuk dapat bermimpi bertemu Rasulullah SAW.

Yg Namanya Muslim pasti merindukan berjumpa dg Pujaan hatinya, bagaimana tidak dialah Figur yg mempesona صلى الله عليه وسلم .

Sayapun tak ketinggalan, semenjak tahu betapa agungnya Beliau dr keterangan2 ktb al barzanji yg di maknai gandul ol...eh Kyaiku.

Sayapun mulai berpetualang mencari jln pintas demi menebus kerinduan.

Kesana kemari saya mencari ijazah, baik dr Guru, Kyai, teman, dukun dll. Karena bermimpi dg Rosul adalah hal yg hebat, maka saya berkeyakinan bhw jalan kesana haruslah berat, maka ijazah2 yg selama itu saya terima saya pandang masih terlalu ringan, selanjutnya sayapun terus mencari, harus yg berat. Sampailah pada suatu saat saya mendapatkannya dn kemudian mengamalkannya (selama 7 hari 7 malam).

Pada malam yg terahir, yg harus jatuh pada malam jum'at. Sejak sore hari saya udah berdebar membayangkan perjumpaan dg Baginda.

Singkat cerita, pada tengah malam saya telah bersiap tidur dg cara mayyit di kubur.

Pakaian serba putih, minyak wangi dn membaca sholawat sebanyak mungkin.

1 jam, 2 jam saya gak bisa tidur, karena nyamuknya yg sangat banyak, sayapun gak kehilangan akal.

Saya ambil kalender, saya balik gambarnya menutupi wajah, agar tidak melanggar ketentuan memakai yg putih2. Aaamaaan deh...

Saya masih aja gak bisa tidur, karena nyamuknya masih punya celah dari atas kepala dn masuk untuk mengusik dg suara ngiiiiing.....

Menjelang Subuh baru saja saya tidur sekejap, baru aja mulai mimpi berada di tanah arab, saya di kejutkan oleh suara jeritan ketakutan, Mayiiiiiit.......

Merbot Masjid lari ke jalan raya, karena melihat serba putih yg tidur dg mujur ke utara. Sialan!!! Tp kepingkel2 di buatnya.

Ini cerita benar2 saya alami.

Setelah kejadian itu (waktu itu saya masih remaja, kira2 umur 14 th). Saya gak bosan2 mengulang dn mengulang dg fariasi amalan yg berbeda, tp selalu gagal. Dalam arti sll gak tuntas dalam menjalankan ritual.

Sema...kin Dewasa semakin panjang pula petualangan saya dalam memimpikan mimpi bertemu dg Baginda. Karena saya menemukan semacam Bisyaroh, bhw sesiapa yg bertemu dg Rosulullah dalam mimpi, akan bertemu pula dalam waktu jaga. Dn siapa yg ketemu dalam waktu jaga menandakan bhw dia orang yg mendapat Syafa'at. Atau bahkan bertemu dalam mimpi saja.

Sampailah pada suatu bacaan dn keterangan dr Kyai, bhw untk bertemu dg Beliau di perlukan kematangan jiwa dn persiapan mental yg kuat di samping usaha kuat dg berbagai amalan trsbt.

Rasa penasaran saya semakin memuncak, ketika saya bertemu d...g orang biasa (tidak pinter agama dn amalnya juga biasa2 saja), tp dg kepolosannya dia cerita kalo dalam 1 bln di dapat bertemu dg Beliau sedikitnya 4 kali.

Saya amati sahabat baru saya ini, memang aura wajahnya gk sprt kebanyakan orang2 Nelayan.

Tutur katanya halus, penuh kerendahan hati, tp dia bicara apa adanya, seringkali juga saya di ingatkan dalam ngobrolnya.

Sampailah pada sebuah kesimpulan bhw dia seorang pengamal sholawat (ingat dia sama sekali gak fasih ketika membacanya "Allahumma Solli ngala sayyidina Mukammat") di samping itu dia ternyata seorang DERMAWAN. Dalam bersedekah gk pakai perhitungan dn kepada siapa saja yg membutuhkan. Ini sesuai apa yg saya tahu selama ini, bhw DERMAWAN itu sangat luar biasa untk membuka hijab.

Dia sering prihatin jika ada sanak saudara yg kesulitan, walaupun terkadang dia juga gk bisa nolong.

Oh ya, sempat juga sahabat saya ini saya ceritakan kpd Para Kyai, komplit dg sifat2nya. Dn rata2 Kyai pada membenarkannya, artinya memang or...ang yg punya shifat2 sprt itulah yg di suka Rosulullah. Yaitu orang yg hatinya penuh kasih sayang terhadap sesama. Tidak kumantil dunyo, dn yg paling istimewa adalah dia merasa bodoh, maka dia suka berteman dg santri, dia gak malu bertanya atau meminta nasihat kpd teman yg umurnya jauh di bawahnya
 
sumber : GUS TAMA

Ngalap Berkah (Tabarukan)

Ngalap Berkah

Berkah (barokah) diartikan dengan tambahnya kebaikan (ziyadah al-khair). Sedangkan tabarruk bermakna mencari tambahnya kebaikan atau ngalap barokah (thalab ziyadah al-khair). Demikian para ulama menjelaskan.

Masyarakat kita seringkali mendatangi orang-orang saleh dan para ulama sepuh dengan tujuan tabarruk. Para ulama dan orang saleh memang ada barokahnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Berkah Allah bersama orang-orang besar di antara kamu.” (HR. Ibn Hibban (1912), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (8/172), al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/62) dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (64/35/2). Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai kriteria al-Bukhari, dan al-Dzahabi menyetujuinya.)

Al-Imam al-Munawi menjelaskan dalam Faidh al-Qadir, bahwa hadits tersebut mendorong kita mencari berkah Allah subhanahu wa ta’ala dari orang-orang besar dengan memuliakan dan mengagungkan mereka. Orang besar di sini bisa dalam artian besar ilmunya seperti para ulama, atau kesalehannya seperti orang-orang saleh. Bisa pula, besar dalam segi usia, seperti orang-orang yang lebih tua.

Jika ada yang bertanya, “Bagaimana Islam menanggapi orang-orang yang melakukan ziarah ke makam para wali dengan tujuan mencari berkah?”

Di antara amal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah ziarah makam para nabi atau para wali. Baik ziarah tersebut dilakukan dengan tujuan mengucapkan salam kepada mereka atau karena tujuan tabarruk (ngalap barokah) dengan berziarah ke makam mereka. Maksud tabarruk di sini adalah mencari barokah dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara berziarah ke makam para wali.

Orang yang berziarah ke makam para wali dengan tujuan tabarruk, maka ziarah tersebut dapat mendekatkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menjauhkannya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang berpendapat bahwa ziarah wali dengan tujuan tabarruk itu syirik, jelas keliru. Ia tidak punya dalil, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Al-Hafizh Waliyyuddin al-’Iraqi berkata ketika menguraikan maksud hadits:
“Sesungguhnya Nabi Musa as berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”

Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata:
“Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa u yaitu pada makam yang sekarang dikenal masyarakat sebagai makam beliau. Yang jelas, tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Tharh al-Tatsrib, [3/303]).

Pada dasarnya ziarah kubur itu sunnat dan ada pahalanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dulu aku melarang kamu ziarah kubur. Sekarang ziarahlah.” (HR. Muslim). Dalam satu riwayat, “Barangsiapa yang henda ziarah kubur maka ziarahlah, karena hal tersebut dapat mengingatkan kita pada akhirat.” (Riyadh al-Shalihin [bab 66]).

Di sini mungkin ada yang bertanya, adakah dalil yang menunjukkan bolehnya ziarah kubur dengan tujuan tabarruk dan tawassul? Sebagaimana dimaklumi, tabarruk itu punya makna keinginan mendapat berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan berziarah ke makam nabi atau wali. Kemudian para nabi itu meskipun telah pindah ke alam baka, namun pada hakekatnya mereka masih hidup. Dengan demikian, tidak mustahil apabila mereka merasakan datangnya orang yang ziarah, maka mereka akan mendoakan peziarah itu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Para nabi itu hidup di alam kubur mereka seraya menunaikan shalat.” (HR. al-Baihaqi dalam Hayat al-Anbiya’, [1]).

Sebagai penegasan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang telah wafat, dapat mendoakan orang yang masih hidup, adalah hadits berikut ini:
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Hidupku lebih baik bagi kalian. Kalian berbuat sesuatu, aku dapat menjelaskan hukumnya. Wafatku juga lebih baik bagi kalian. Apabila aku wafat, maka amal perbuatan kalian ditampakkan kepadaku. Apabila aku melihat amal baik kalian, aku akan memuji kepada Allah. Dan apabila aku melihat sebaliknya, maka aku memintakan ampun kalian kepada Allah.” (HR. al-Bazzar, [1925]).

Karena keyakinan bahwa para nabi itu masih hidup di alam kubur mereka, kaum salaf sejak generasi sahabat melakukan tabarruk dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam setelah beliau wafat. Hakekat bahwa para nabi dan orang saleh itu masih hidup di alam kubur, sehingga para peziarah dapat bertabarruk dan bertawassul dengan mereka, telah disebutkan oleh Syaikh Ibn Taimiyah berikut ini:
“Tidak masuk dalam bagian ini (kemungkaran menurut ulama salaf) adalah apa yang diriwayatkan bahwa sebagian kaum mendengar jawaban salam dari makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam atau makam orang-orang saleh, juga Sa’id bin al-Musayyab mendengar adzan dari makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam pada malam-malam peristiwa al-Harrah dan sesamanya. Ini semuanya benar, dan bukan yang kami persoalkan. Persoalannya lebih besar dan lebih serius dari hal tersebut. Demikian pula bukan termasuk kemungkaran, adalah apa yang diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang ke makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu mengadukan musim kemarau kepada beliau pada tahun ramadah (paceklik). Lalu orang tersebut bermimpi Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan menyuruhnya untuk mendatangi Umar bin al-Khaththab agar keluar melakukan istisqa’ dengan masyarakat. Ini bukan termasuk kemungkaran. Hal semacam ini banyak sekali terjadi dengan orang-orang yang kedudukannya di bawah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan aku sendiri banyak mengetahui peristiwa-peristiwa seperti ini.” (Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, juz. 1, hal. 373).

Kisah laki-laki yang datang ke makam Nabi shallallahu alaihi wa sallam di atas, telah dijelaskan secara lengkap oleh al-Hafizh Ibn Katsir al-Dimasyqi, murid terkemuka Syaikh Ibn Taimiyah, dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah. Beliau berkata:

“Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi berkata, Abu Nashr bin Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi mengabarkan kepada kami, Abu Umar bin Mathar mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Ali al-Dzuhli mengabarkan kepada kami, Yahya bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Malik al-Dar, bendahara pangan Khalifah Umar bin al-Khaththab, bahwa musim paceklik melanda kaum Muslimin pada masa Khalifah Umar. Maka seorang sahabat (yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani) mendatangi makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Hai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu karena sungguh mereka benar-benar telah binasa”. Kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya “bersungguh-sungguhlah melayani umat”. Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu”. Sanad hadits ini shahih. (Al-Hafizh Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, juz 7, hal. 92. Dalam Jami’ al-Masanid juz i, hal. 233, Ibn Katsir berkata, sanadnya jayyid (baik). Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibn Abi Khaitsamah, lihat al-Ishabah juz 3, hal. 484, al-Khalili dalam al-Irsyad, juz 1, hal. 313, Ibn Abdil Barr dalam al-Isti’ab, juz 2, hal. 464 serta dishahihkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, juz 2, hal. 495).

Apabila hadits di atas kita cermati dengan seksama, maka akan kita pahami bahwa sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani radhiyallahu ‘anhu tersebut datang ke makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan tujuan tabarruk, bukan tujuan mengucapkan salam. Kemudian ketika laki-laki itu melaporkan kepada Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu, ternyata Umar radhiyallahu ‘anhu tidak menyalahkannya. Sayidina Umar radhiyallahu ‘anhu juga tidak berkata kepada laki-laki itu, “Perbuatanmu ini syirik”, atau berkata, “Mengapa kamu pergi ke makam Rasul shallallahu alaihi wa sallam untuk tujuan tabarruk, sedangkan beliau telah wafat dan tidak bisa bermanfaat bagimu”.

Hal ini menjadi bukti bahwa bertabarruk dengan para nabi dan wali dengan berziarah ke makam mereka, itu telah dilakukan oleh kaum salaf sejak generasi sahabat, tabi’in dan penerusnya.

Demikian semoga bermanfaat,Wallohu'alam

Dikutip dari Madinatulilmi
Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus - Malang, Jawa Timur

sumber: Hj sonya ade rahmawaty



Kamis, 24 Februari 2011

#CERITA YANG INDAH SEORANG PEMUDA YANG TOBAT DENGAN NADZAR MELAKSANAKAN MAULID#

Pada masa Khalifah Makmun bin Harun al-Rasyid (167-219 H / 813-833M). adalah seorang pemuda yang mengurus kuda, malang pada sore hati itu kudanya lepas kendali dan menerobos istana dan tanpa sengaja mencelakai anak dari khalifah makmun yang seperti biasanya selalu bermain di halaman istana setiap sorenya.

mengetahui dirinya telah mencelakai putra khalifah, pemuda tersebut ketakutan dikarenakan hukuman siksa yang mungkin dia terima, segeralah dia pacu kudanya pergi dari lingkungan kerajaan.. dan sesampainya dia di tengah padang pasir, merasa kelaparan hauslah dia disana, lalu tersadarlah dia untuk kembali ke istana dan memohon ampun kepada khalifah dan mempersiapkan diri atas semua hukuman yang bakal dia terima, menurutnya itu itu lebih baik demi mendapat Ridlo ALLAH, benaknya pada saat itu "seandainya aku terus lari dari masalah, aku justru akan menemui masalah-masalah lain yang lebih berat, di tengah padang pasir ini aku bisa saja mati kelaparan dan kehausan, namun kematiankau sungguh hina dikarenakan mati menjemput azab karena ALLAH tidak akan mengampuniku sedangkan diriku bersalah pada orang lain, akupun akan mati dalam kesendirian, lebih baik aku kembali dan memohon ampun padanya demi ridlo ALLAH, biarpun dipancung kepalaku itu lebih baik karena kematianku dalam kematian yang terhormat"

maka bergegaslah dia kembali ke negerinya, dan ketika dia memasuki ternyata telah bersiap para pasukan yang menyambutnya, karena seperti yang telah di duga si pemuda ini lekas menjadi buronan. namun ada yang aneh di pandangan pemuda itu, dia melihat khalifah tersenyum padanya.. dia khawatir "ini senyuman bahagia ataukah senyuman sinis?" (karena senyuman sinis itu berbahaya).

maka segeralah dia dihadapkan kepada khalifah, lalu khalifah makmun bertanya "hai pemuda, apa yang menyebabkanmu kembali kesini?' lalu pemuda itu bercerita bahwa dia kembali kesini semata-mata demi mengharap ridlo dari ALLAH, diatelah berdoa kepada ALLAH dengan tawasul kepada Rasulullah SAW, "ya ALLAH demi Muhammad SAW, ampunilah aku, aku akan kembali ke negeriku seandainya aku selamat akan aku adakan maulidur rasul setiap tahunnya", maka dengan ketulusan hati aku kembali, ujar pemuda tersebut.

mendengar penuturan pemuda tersebut khalifah menimpali "oh pantas.. aku melihat pancaran cahaya kesucian dari wajahmu, yang membuatku tersenyum menyambutmu", alih-alih menghukum pemuda bersalah ini sang khalifah justru membebaskanya bahkan memberinya uang untuk melakukan maulidur rasulullah SAW..

(subhanalah.. rasulullah adalah berkah semesta alam, pemuda ini hanya baru niat saja sudah mendapat pertolongan lantas bagaimana dengan kita yang setiap bulan maulid menyambutnya dengan gempita, mensedekahkan dan membantu terselenggaranya pembacaan maulid, sungguh rasulullah pasti menolong kita dalam kesulitan hidup dan akherat dengan syafaat-nya..)

sumber: gus tama