di saat di depan rumah saya , saya telah mencoba menyapa Al-Habib alwi bin husein Al-Haddad lantas beliau menyapa balik ke saya dan mencoba untuk menghapiri saya lantas saya telah berbincang-bincang dengan tentang dakwah yang habib alwi lakukan , di saat akhir bincang-bincang lantas saya meminta doa kepada Al-Habib Alwi ya Habib doakan saya ya ,, Lantas Beliau Al-Habib Alwi bercerita
perlu kamu ketahui hud , disaat zaman Al-Habib Abu Bakar Assegaf Gresik ada sesorang meminta doa kepada beliau Lantas Hb. Abu Bakar menjawab apakah kamu masih memiliki kedua orang tua lantas jawab orang yang meminta doa : Masih beb , Lantas Hb Abu bakar mengatakan perlu kamu ketahui ya Fulan Sungguh 70 orang seperti ku masih lebih baik doa kedua orang tua mu ,, Subahnallah ,, betapa Zuhud nya Al-Habib Abu Bakar , beliau merupakan Wali Min Awliya illah ,sampai diakatakan 70 kali orang seperti ku (seperti Hb.Abu Bakar ) , Subhanallah Betapa mulia nya doa kedua orang tua kita ,,bahkan Nabi Muhammad Saw Bersabda yang kurang lebih maksud / artinya : “Doa kedua orang tua seperti doa Nabi kepada ummatnya” (yang mana pasti terkabulnya) Subhanallah ,,,,, dan masih banyak lagi cerita-cerita yang mengisahkan kdeua oang tua kita diantaranya kisah Ques Al-Qoroni dll sbagai nya sekian dari saya ,, Mohon maaf apabila ada penulisan kata sbb saya hanyalah orang awwam , yang mencoba ngetik2,,, Wassalam
sumber: habib Mikail Hud Mauladawilah
Senin, 16 Mei 2011
Kamis, 05 Mei 2011
Mengucapkan kata “Sayyidina”
Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:
الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ
“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).
Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:
عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).
Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:
“Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits 'saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.' Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)
Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.
Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam shalat?
لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ
“Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”
Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.
Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ , Sehingga tidak bisa dikatakan لَاتُسَيِّدُوْنِي
Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat.
KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Ketua PCNU Jember
الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ
“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).
Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:
عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).
Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:
“Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits 'saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.' Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)
Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.
Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam shalat?
لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ
“Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”
Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.
Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ , Sehingga tidak bisa dikatakan لَاتُسَيِّدُوْنِي
Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat.
KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Ketua PCNU Jember
Senin, 25 April 2011
Jaminan Dalam Al-qur'an dan Al-hadits bahwa golongan Al-Asya'ari Sebagai golongan yang selamat
Tidak sedikit golongan diluar sana yang mencela ajaran Asya'iroh dengan menamakan ajaran tersebut sebagai bagian dari ajaran mu'tazilah , falasifah, dan sebagainya. Namun cacian itu sama sekali tidak akan berpengaruh bahkan sebaliknya akan membungkam mulut mereka ketika terdapat sebuah nash yang jelas sebagai bantahan atas celaan tersebut.
Sebab tidak tanggung-tanggung , Allah memuji golongan Asya'iroh dalam sebuah ayat yang mana pada saat ayat ini turun, Rasulullah memberikan isyaratnya kepada seorang sahabat yaitu Imam Abu Musa al-Asy'ari (Kakek dari Imam Abu Hasan al-Asy'ari) seraya menunjuk kepadanya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui" (QS. al-Maidah : 54)
Rasulullah SAW yang bertugas sebagai mubayyin (penjelas) al-Qur'an telah memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan "kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya..", dalam ayat diatas adalah kaum Abu Musa al-Asy'ari berdasarkan hadits shahih berikut
عن عياض الاشعري قال : لما نزلت : {فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه} قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (هم قومك يا أبا موسى) وأومأ رسول الله صلى الله عليه وسلم : هم قوم هذا , و أشار إلي أبي موسى الأشعري.
Dari Iyadh al-Asy'ari Radiyallahuanhu dia berkata "Ketika ayat, "Allah SWT akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya", maka Rasulullah SAW bersabda sambil menunjuk kepada Abu Musa al-Asy'ari : "Mereka adalah kaumnya laki-laki ini"
قال القشيرى: فأتباع أبى الحسن الأشعرى من قومه لأن كل موضع أضيف فيه قوم إلى نبي أريد به الأتباع، قاله القرطبى فى تفسيره (ج6/220) .
Al-Qusyairi berkata : "Pengikut madzhab Abi al-Hasan al-Asy'ari termasuk kaum Abu Musa al-Asy'ari , karena setiap terjadi penisbahan kata kaum terhadap nabi didalam al-Qur'an, maka yang dimaksudkan adalah pengikutnya"
وقال البيهقى: وذلك لما وجد فيه من الفضيلة الجليلة والمرتبة الشريفة للإمام أبى الحسن الأشعرى رضى الله عنه فهو من قوم أبى موسى وأولاده الذين أوتوا العلم ورزقوا الفهم مخصوصاً من بينهم بتقوية السنة وقمع البدعة بإظهار الحجة ورد الشبهة ".ذكره ابن عساكر في تبيين كذب المفتري.
Dan telah berkata Imam Bayhaqy " Demikian itu karena telah nyata di temukan keutamaan besar dan dan kedudukan yang sangat mulia pada dari Imam Abu Hasan al Asy'ari Rodiyallahu anhu. Beliau adalah dari kaum Abu Musa al Asy'ari dan termasuk anak turunya. mereka2 itu telah di beri ilmu rezki kefahaman yang di hususkan di antara mereka yaitu dengan menguatkan sunnah dan menghancurkan bid'ah dengan menampakan hujjah dan menolak segala syubhat/kekeliruan"
Mungkinkah al-Qur'an memuji kaum yang salah ???? Inilah aqidah yang haq !!! Mari kita sebarkan dan pelajari aqidah ini !!
فالأشعرية والماتريدية هم أهل السنة والجماعة الفرقة الناجية.
sumber : maha guru assayidah sonya ade rahmawaty
Sebab tidak tanggung-tanggung , Allah memuji golongan Asya'iroh dalam sebuah ayat yang mana pada saat ayat ini turun, Rasulullah memberikan isyaratnya kepada seorang sahabat yaitu Imam Abu Musa al-Asy'ari (Kakek dari Imam Abu Hasan al-Asy'ari) seraya menunjuk kepadanya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui" (QS. al-Maidah : 54)
Rasulullah SAW yang bertugas sebagai mubayyin (penjelas) al-Qur'an telah memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan "kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya..", dalam ayat diatas adalah kaum Abu Musa al-Asy'ari berdasarkan hadits shahih berikut
عن عياض الاشعري قال : لما نزلت : {فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه} قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (هم قومك يا أبا موسى) وأومأ رسول الله صلى الله عليه وسلم : هم قوم هذا , و أشار إلي أبي موسى الأشعري.
Dari Iyadh al-Asy'ari Radiyallahuanhu dia berkata "Ketika ayat, "Allah SWT akan mendatangkan satu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya", maka Rasulullah SAW bersabda sambil menunjuk kepada Abu Musa al-Asy'ari : "Mereka adalah kaumnya laki-laki ini"
قال القشيرى: فأتباع أبى الحسن الأشعرى من قومه لأن كل موضع أضيف فيه قوم إلى نبي أريد به الأتباع، قاله القرطبى فى تفسيره (ج6/220) .
Al-Qusyairi berkata : "Pengikut madzhab Abi al-Hasan al-Asy'ari termasuk kaum Abu Musa al-Asy'ari , karena setiap terjadi penisbahan kata kaum terhadap nabi didalam al-Qur'an, maka yang dimaksudkan adalah pengikutnya"
وقال البيهقى: وذلك لما وجد فيه من الفضيلة الجليلة والمرتبة الشريفة للإمام أبى الحسن الأشعرى رضى الله عنه فهو من قوم أبى موسى وأولاده الذين أوتوا العلم ورزقوا الفهم مخصوصاً من بينهم بتقوية السنة وقمع البدعة بإظهار الحجة ورد الشبهة ".ذكره ابن عساكر في تبيين كذب المفتري.
Dan telah berkata Imam Bayhaqy " Demikian itu karena telah nyata di temukan keutamaan besar dan dan kedudukan yang sangat mulia pada dari Imam Abu Hasan al Asy'ari Rodiyallahu anhu. Beliau adalah dari kaum Abu Musa al Asy'ari dan termasuk anak turunya. mereka2 itu telah di beri ilmu rezki kefahaman yang di hususkan di antara mereka yaitu dengan menguatkan sunnah dan menghancurkan bid'ah dengan menampakan hujjah dan menolak segala syubhat/kekeliruan"
Mungkinkah al-Qur'an memuji kaum yang salah ???? Inilah aqidah yang haq !!! Mari kita sebarkan dan pelajari aqidah ini !!
فالأشعرية والماتريدية هم أهل السنة والجماعة الفرقة الناجية.
sumber : maha guru assayidah sonya ade rahmawaty
Jumat, 22 April 2011
Akhlaq Ahlul Bait
Baru saja Sayyidina Ali Zainal Abidin keluar dari rumahnya, tiba-tiba seseorang mendatanginya dan berkata, "Kau telah mencuri kantong uangku yang berisi 1000 dinar. Tidak ada yang mencurinya kecuali engkau." Orang itu lalu menghina dan mencaci. "Mari ke rumahku, akan kukembalikan uangmu," kata beliau. Beliau kemudian kembali ke rumahnya diikuti orang itu.Sesampainya di rumah, beliau memberinya uang 1000 dinar. Orang itu lalu pulang. Setelah sampai di rumah, ia terkejut melihat kantong uangnya yg berisi 1000 dinar ternyata tertinggal di rumah. Ia segera menemui Sayyidina Ali Zainal Abidin untuk meminta maaf. "Aku telah mencaci dan menuduhmu sebagai pencuri tapi kau berdiam, sabar dan santun kapadaku. Kau tidak membalas dengan perlakuan yg pantas bagiku, bahkan kau memberiku 1000 dinar. Sekarang uangku telah kutemukan, maka ambillah uang 1000 dinarmu ini." "Engkau telah kumaafkan dan 1000 dinar itu untukmu, semoga Allah memberkatimu. Kami ahlul bait jika telah mengeluarkan sesuatu tidak akan menariknya kembali." Andaikata peristiwa ini terjadi pada diri kita, kita tentu akan membalas setiap kata yang ia ucapkan dengan sepuluh kata yang lebih buruk. Akan tetapi, karena beliau bersabar dan bersikap santun, maka lelaki itu menyesal dan bertobat.
sumber : syarifah nisa barakwan
sumber : syarifah nisa barakwan
Senin, 18 April 2011
NIKMAT ALLAH YANG MANAKAH YANG KITA DUSTAKAN?
Ibnu Qudamah dalam bukunya yang terkenal, At Tawwabin, mengetengahkan kisah kalajengking, kodok, dan pemabuk, seperti disampaikan oleh Dzun Nun Al-Mishri. Pertma kali saya mengetahui kisah ini dari novel Bumi Cinta karya Habiburrahman yang kemudian saya telurusi sumber aslinya.
Suatu ketika, Dzun Nun berjalan di tepian sungai. Ia melihat seekor kalajengking melompat ke punggung seekor katak. Kemudian sang katak berenang menyeberangi sungai. Dzun Nun dengan firasatanya yang tajam berkata, “Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi dengan kalajengking ini.”
Dzun Nun terus mengikuti perjalanan kedua mahkluk Allah tersebut hingga sampai di daratan. Lalu, Dzun Nun melihat seorang pemabuk sedang teler akibat menunggak minuman keras sementara ada ular besar yang melilit pemabuk yang pingsan itu.
Di sinilah terjadi hal yang luar biasa. Kalajengking melompat ke ular. Terjadilah pertarungan yang luar biasa sengitnya. Saling menyerang, mencabik, dan berusaha membunuh. Kalajengking dan ular sama-sama berusah saling menghabisi dan mengoyak tubuh lawannya. Namun akhirnya, ular terkapar kalah tak bernyawa.
Dzun Nun membangunkan pemuda teler ini. Ia berkata: “Hai anak muda, lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah sudi menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang telah diutus-Nya untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu.”
Pemuda ini berkata, “Duhai Ilahi, begitu kasihnya engkau kepada hamba yang penuh dosa ini, bagaimana halnya kasihMu kepada hamba yang taat kepada-Mu?
Sebuah kisah menarik. Sarat pelajaran dan hikmah yang layak menjadi bahan renungan bagi siapa saja. Membaca kisah tersebut membuat kita yang doyan lalai ini menghela nafas, mengingat rahmat Allah yang melekat pada kita. Padahal kita acap mengolok-olok Allah, tapi Allah tetap sayang pada kita. Tidak berhenti sedetikpun kecuali anugerah-Nya melengkapi hidup ini.
Kita bisa menemukan kasih sayang Allah pada tubuh kita. Cobalah membaca buku 7 Pilar Kehidupan yang ditulis oleh M. Ratib An-Nabulsi. Di dalamnya, terpapar keteraturan struktur tubuh kita. Cukuplah di sini kita sebut beberapa di antaranya: mulai dari rambut di kepala, selaput jala mata, telinga, lidah, ludah, aliran darah, liver, sampai permukaan kulit.
Di kepala kita terdapat 300 ribu helai rambut yang tiap helainya menyimpan akar, pembuluh darah, otot, saraf, kelenjar lunak, dan kelenjar kromoson. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Di selaput jala mata kita terdapat 10 lapisan yang di dalamnya terdapat 130 juta sel dengan 400 ribu serat saraf. Di telinga kita terdapat 30 ribu sel pendengar yang memindahkan suara terhalus. Di permukaan lidah kita terdapat papilla yaitu bagian menonjol pada selaput yang berlendir di bagian atas lidah yang dengannya kita dapat merasakan manis, asam, pahit, dan asin. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Dan tahukah kita bahwa di dalam ludah mulut, terdapat 500 ribu sel yang di tiap lima detiknya yang digantikan dengan setengah juta sel baru? Di dalam setiap 1 mm darah terdapat 500 juta keeping berputar di dalam darah dengan 1.500 putaran, menempuh jarak 1.150 km. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Di dalam liver (hati) ada 300 miliar sel yang melakukan regenerasi dalam jangka waktu 4 bulan. Tanpa liver selama 3 jam sudah cukup sebagai akhir kehidupan kita.“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Di bawah permukaan kulit terdapat 15 juta pengatur suhu tubuh, yang disebut sebagai kelenjar keringat. Pada setiap kelenjar keringat terdapat satu pengatur satu pengatur suhu untuk mengatur suhu kulit dan menormlkan kelembabannya. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Semua ada karena Allah. Jantung, mata, hati, ginjal, telinga, hidung, lidah, tangan, ludah, aliran darah, dan anggota tubuh lainnya yang melekat pada diri ini adalah titipan-Nya yang diberikan secara cuma-cuma.
Wahai kita yang amalnya sedikit dibanding maksiatnya, nikmat Allah yang manakah yang telah kita dustakan? “Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikannya.” (Qs. Adz-Dzariyaat: 21)
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-Araf: 23)
sumber: alhabib ali akbar bin agil (malang)
Suatu ketika, Dzun Nun berjalan di tepian sungai. Ia melihat seekor kalajengking melompat ke punggung seekor katak. Kemudian sang katak berenang menyeberangi sungai. Dzun Nun dengan firasatanya yang tajam berkata, “Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi dengan kalajengking ini.”
Dzun Nun terus mengikuti perjalanan kedua mahkluk Allah tersebut hingga sampai di daratan. Lalu, Dzun Nun melihat seorang pemabuk sedang teler akibat menunggak minuman keras sementara ada ular besar yang melilit pemabuk yang pingsan itu.
Di sinilah terjadi hal yang luar biasa. Kalajengking melompat ke ular. Terjadilah pertarungan yang luar biasa sengitnya. Saling menyerang, mencabik, dan berusaha membunuh. Kalajengking dan ular sama-sama berusah saling menghabisi dan mengoyak tubuh lawannya. Namun akhirnya, ular terkapar kalah tak bernyawa.
Dzun Nun membangunkan pemuda teler ini. Ia berkata: “Hai anak muda, lihatlah betapa besar kasih sayang Allah yang telah sudi menyelamatkanmu. Lihatlah kalajengking yang telah diutus-Nya untuk membinasakan ular yang hendak membunuhmu.”
Pemuda ini berkata, “Duhai Ilahi, begitu kasihnya engkau kepada hamba yang penuh dosa ini, bagaimana halnya kasihMu kepada hamba yang taat kepada-Mu?
Sebuah kisah menarik. Sarat pelajaran dan hikmah yang layak menjadi bahan renungan bagi siapa saja. Membaca kisah tersebut membuat kita yang doyan lalai ini menghela nafas, mengingat rahmat Allah yang melekat pada kita. Padahal kita acap mengolok-olok Allah, tapi Allah tetap sayang pada kita. Tidak berhenti sedetikpun kecuali anugerah-Nya melengkapi hidup ini.
Kita bisa menemukan kasih sayang Allah pada tubuh kita. Cobalah membaca buku 7 Pilar Kehidupan yang ditulis oleh M. Ratib An-Nabulsi. Di dalamnya, terpapar keteraturan struktur tubuh kita. Cukuplah di sini kita sebut beberapa di antaranya: mulai dari rambut di kepala, selaput jala mata, telinga, lidah, ludah, aliran darah, liver, sampai permukaan kulit.
Di kepala kita terdapat 300 ribu helai rambut yang tiap helainya menyimpan akar, pembuluh darah, otot, saraf, kelenjar lunak, dan kelenjar kromoson. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Di selaput jala mata kita terdapat 10 lapisan yang di dalamnya terdapat 130 juta sel dengan 400 ribu serat saraf. Di telinga kita terdapat 30 ribu sel pendengar yang memindahkan suara terhalus. Di permukaan lidah kita terdapat papilla yaitu bagian menonjol pada selaput yang berlendir di bagian atas lidah yang dengannya kita dapat merasakan manis, asam, pahit, dan asin. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Dan tahukah kita bahwa di dalam ludah mulut, terdapat 500 ribu sel yang di tiap lima detiknya yang digantikan dengan setengah juta sel baru? Di dalam setiap 1 mm darah terdapat 500 juta keeping berputar di dalam darah dengan 1.500 putaran, menempuh jarak 1.150 km. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Di dalam liver (hati) ada 300 miliar sel yang melakukan regenerasi dalam jangka waktu 4 bulan. Tanpa liver selama 3 jam sudah cukup sebagai akhir kehidupan kita.“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Di bawah permukaan kulit terdapat 15 juta pengatur suhu tubuh, yang disebut sebagai kelenjar keringat. Pada setiap kelenjar keringat terdapat satu pengatur satu pengatur suhu untuk mengatur suhu kulit dan menormlkan kelembabannya. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Wahai kita yang amalnya sedikit dibanding maksiatnya, nikmat Allah yang manakah yang telah kita dustakan? “Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikannya.” (Qs. Adz-Dzariyaat: 21)
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al-Araf: 23)
sumber: alhabib ali akbar bin agil (malang)
Langganan:
Postingan (Atom)