Kamis, 13 Januari 2011

kisah para imam dan ulama terdahulu

Sungguh para imam terdahulu bukanlah seperti yang telah dikatakan oleh sebagian orang yang menganggap bahwa mereka bisanya hanya sekedar ziarah, shalawatan, atau hal-hal yang syirik yang mereka perbuat, padahal sungguh mereka adalah para imam besar dan kita tidak ada yang menyaingi mereka. Dan salah satu murid Al Imam Ahmad bin Zen Al Habsyi adalah Al Imam Abdullah bin Abdurrahman Balfaqih ‘Allamatuddunya, beliau digelari ‘Allamatuaddunya, karena disaat itu tidak ada seorangpun yang melebihi keilmuannya, beliau berkata saat mendekati ajalnya : “aku mempunyai 8 cabang ilmu yang belum sempat aku ajarkan dan 8 cabang ilmu itu hilang karena aku orang terakhir yang mengetahuinya saat ini”, mengapa demikian? karena belum ada diantara murid-muridnya yang mencapai derajat untuk bisa mempelajari 8 cabang keilmuan itu.

Salah satu kejadian ketika musim Haji di Makkah Al Mukarramah dan disaat itu tidak seperti sekarang dimana kesemuanya menjadi hal yang syirik dan bid’ah di makkah. Di zaman itu Makkah Al Mukarramah penuh dengan ulama’, para mufti dan hujjatul islam. Maka disaat ada sebuah pertanyaan yang tidak terjawab dan tidak ada yang bisa menjawab, disaat itu ada Al Imam Abdullah bin Abdurrahman Balfaqih, karena disaat itu semua memakai pakaian ihram maka tidak ketahuan kalau beliau adalah Al Imam Abdullah, maka Al Imam berkata kepada orang awam yang berada di sebelahnya untuk menjawab pertanyaan tadi setelah memberitau jawabannya kepada orang itu, maka orang awam itu berdiri dan berkata : “jawabanya adalah begini dan begini….” Maka guru mufti Makkah dan para imam besar melihatnya dan berkata : “engkau siapa dan datang dari mana?”, maka orang itu menjawab : “saya hanya orang biasa bukan seorang ulama”, mufti itu berkata : “mustahil kamu mengetahui jawabannya, karena tidak ada yang tau jawaban dari pertanyaan ini kecuali ‘Allamah Addunya Al Imam Abdullah bin Abdurrahman Balfaqih, apakah engkau murid beliau atau kenal dengan beliau?”, orang awam menjawab : “tidak, aku bukan muridnya dan tidak pula kenal dengannya”, mufti Makkah kembali bertanya : “terus kamu tau dari mana jawaban itu?”, ia menjawab : “dari orang yang disebelahku ini” dan ternyata beliau adalah Al Imam Abdullah bin Abdurrahman Balfaqih.

Mufti Makkah berseru : “Allahu Akbar...!, Wahai Al Imam majulah kedepan jangan duduk di belakang”, lantas beliau kedepan dan mufti Makkah berkata : “Mohon ajarkan kami ilmu tafsir”, maka Al Imam berkata : “mengajarkan kalian ilmu tafsir?! berapa lama aku harus disini, sedangkan aku hanya akan duduk beberapa hari saja disini untuk haji?!”, maka mufti Makkah menjawab : “sebisanya saja wahai Al Imam”, lantas Al Imam bertanya : “Aku mulai dari tafsir awal surat atau bagaimana?”, mufti Makkah menjawab : “dari awal surat wahai Al Imam”, maka Al Imam duduk dan mulai mensyarahkan huruf “baa” dari ayat pertama di surat Al Fatihah بسم الله الرحمن الرحيم syarah huruf “baa” belum selesai syarah penjelasannya hingga belasan kali majelis hingga berakhir masa haji dan beliau pulang ke Hadramaut penjelasan huruf “Baa” dari huruf pertama di alqur’an itu belum selesai, demikian keluasan ilmu ulama’ terdahulu.
Dan di dalam ma’rifah dan haqiqah pun mereka adalah lautan dan samudera makrifatullah subhanahu wata’ala, warisan dari sayyidatuna Fathimah Az Zahra’ Ra belahan jiwa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan juga dari Pintu ilmu sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, begitu juga khulafa’urrasyidin, kaum muhajirin dan anshar, rahasia keluhuran itu terwariskan dari zaman ke zaman dan walaupun kita sangat jauh dari masa mereka namun rantai keguruan masih terurai ke hadapan kita untuk menyambung sanad keguruan kita kepada baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kita berpegang kepada guru kita yang mempunyai sanad kepada guru-gurunya hingga kita sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula Al Imam Al Bukhari yang tadi telah kita baca hadits shahihnya, dimana beliau adalah seorang yang ahli khusyu’ yang ketika berumur 10 tahun beliau telah hafal Al qur’an, dan ketika berusia 12 tahun beliau telah hafal 200.000 hadits shahih, dan ketika berumur 20 tahun beliau telah hafal 600.000 hadits, dan beliau terus berusaha mendalami ilmunya. Diriwayatkan dalam kita Siyar a’laamu nubala dan Tadzkiratul huffadh, bahwa ketika Al Imam Bukhari datang kepada Al Imam Muhammad bin Salam seorang Hujjatul islam dan muhaddits, maka Al Imam Muhammad bin Salam berkata : “jika si bocah ini berada disini maka aku terbata-bata dalam membaca hadits dan sanadnya karena dia adalah ahli hadits lebih dari aku” dan ketika Al Imam Al Bukhari pergi berkatalah Al Imam Muhammad bin Salam : “maukah kalian tahu seorang anak yang hafal lebih dari 70.000 matan hadits beserta sanadnya?, dialah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Bardizbah Al Bukhari”, maka ia pun dikejar oleh tamunya dan bertanya : “wahai bocah, betulkah kamu hafal 70.000 hadits beserta sanadnya?”, Al Imam Bukhari menjawab : “iya betul, bahkan lebih dari itu, engkau bisa tanya matan haditsnya dan perawinya maka akan kusebutkan pula tanggal, bulan, dan tahun lahirnya dan wafatnya, dimana tempat tinggalnya beserta guru-gurunya, sejarah hidupnya, maka akan aku sebutkan semuanya satu persatu periwayat demi periwayat dengan secara terperinci hingga sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”, beliau telah hafal lebih dari 70.000 hadits saat masih bocah, demikianlah Al Imam Bukhari Ar (Ar= Alaihi Rahmatullah/semoga baginya limpahan Rahmat Allah swt).

Oleh sebab itu para muhadditsin lainnya telah menganggap Al Imam Al Bukhari sebagai sayyid al muhadditsin (Raja para ahli hadits), dan beliau adalah orang yang sangat cinta kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sangat bersih dari segala maksiat, beliau tidak mau menyakiti perasaan orang lain dan tidak pula mau menertawakan kebodohan orang lain.

Suatu hari saat beliau membacakan hadits beserta sanadnya, maka ada satu orang yang sangat takjub dengan beliau karena hebatnya dalam menyampaikan hadits beserta sanadnya, maka beliau tertawa dalam hatinya (bukan tertawa secara dhohir, tapi hanya dalam hati) melihat ketakjuban orang itu terhadap beliau.
Setelah selesai ceramah Al Imam mencari orang tersebut dan barulah ketemu keesokan harinya kemudian beliau meminta maaf dan memohon ridha karena beliau telah menertawakannya dalam hati.
Beliau jenius, ketika membaca atau mendengar sekali saja maka beliau akan langsung hafal. Suatu ketika beliau diuji disuatu wilayah, berkumpullah para muhadditsin , maka 100 hadits disebutkan dengan sanad yang diacak-acak atau dibolak balik sehingga menjadi kacau, maka ketika Al Imam Al Bukhari disebutkan sebuah hadits kemudian beliau ditanya : “taukah engkau hadits itu?”, maka Al Imam bekata : “tidak, aku tidak mengetahui sanadnya”, kemudian disebutkan lagi hadits yang kedua dengan perawi yang diacak-acak pula, lalu ditanyakan kepada Al Imam : “taukah engkau hadits ini?”, beliau menjawab : “tidak, aku tidak tau”, sampai pada hadits yang ke 100 beliau tetap mengatakan tidak tahu, maka beliau pun ditertawakan.

Kemudian Al Imam Al Bukhari berdiri dan berkata : “maaf, hadits tadi yang telah engkau sebutkan semua sanadnya salah, yang benar adalah sanadnya dari fulan dari fulan ( kemudian Al Imam Al Bukhari menyebutkan semua perawinya hingga sampai kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam)”, begitu seterusnya hingga hadits yang ke 100.
Ia hafal riwayat sanad hadits yg diacak acak itu walau hanya sekali mendengarnya, lalu mengulanginya, dan lalu menyampaikan yg benar, Maka orang-orang pun mengakuinya bahwa dia adalah Raja ahli hadits.
Beliau sangat mencintai rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga beliau menulis 70.000 lebih hadits shahih Al Bukhari yang ia hafal di raudhatussyarif yaitu tempat diantara makam dan mimbar rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, untuk bertabarruk dengan dekatnya beliau dengan makam sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah beliau wafat, disuatu wilayah terjadi panas yang terus menerus dan tidak turun hujan, maka para muridnya dan para imam yang lainnya berdatangan ke makam Al Imam Al Bukhari kemudian berdoa di makam beliau dan bertawassul kepada beliau maka turunlah hujan yang sangat deras selama 7 hari 7 malam karena keberkahan cinta Allah kepada Al Imam Al Bukhari walaupun beliau telah wafat jasadnya namun ruhnya tetap hidup, sebagaimana para syuhada’ telah difirmankan oleh Allah dalam Al qur’an :
وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُقْتَلُ فِيْ سَبيْلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَ لَكِنْ لاَّ تَشْعُرُوْنَ
( البقرة : 154 )
“Dan janganlah kamu katakan ter­hadap orang yang terbunuh di jalan Allah bahwa mereka mati. Bahkan mereka hidup, akan tetapi kalian tidak merasakan.” ( QS. Al Baqarah : 154 )
Jika demikian rahasia keluhuran para syuhada’ maka terlebih lagi mereka para shalihin. Dimana Allah subhanahu wata’ala telah berfirman :
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
(المائدة : 155)
“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).” ( QS. AL Maidah : 155 )
Maksudnya bukan berarti ada tuhan kedua, ketiga, namun rahasia kekuatan dan kemenangan Allah wariskan kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian rasulullah mewariskan kepada para shalihin dan para ulama’. Sebagaimana sabda rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
 أُعْطِيْتُ مَفَاتِيْحَ اْلكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَبْيَنمَا أَناَ نَائِمٌ اَلْباَرِحَةَ إِذْ أُتِيْتُ بِمَفَاتِيْحِ خَزَائِنِ اْلأَرْضِ حَتَّى وُضِعَتْ فِيْ يَدِيْ، قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ فَذَهَبَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَأَنْتُمْ تَنْتَثِلُوْنَهَا.
"Aku telah diberi kunci-kunci pembuka semua kalimat (Al Qur'an) dan aku diberi pertolongan dengan gentarnya musuh, dan ketika aku tidur semalam, aku diberi seluruh kunci-kunci perbendaharaan bumi hingga ditaruhkan ditanganku". Berkata Abu Hurairah ra: "Setelah Rasulullah saw wafat maka kalian yang mendapatkannya dan memunculkannya".
Dan setelah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, maka ummatnya lah yang mewarisinya, itulah rahasia kesuksesan dunia dan akhirah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar